URGENSI AKTUALISASI DIRI BAGI ASN

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita ketahui tentang kisah orang-orang sukses. Mereka mewakili berbagai bidang lapangan kehidupan, seperti pengusaha, dokter, seniman, ilmuwan, atau politisi. Di balik capaian mereka sekarang  sering kita dapatkan cerita kehidupan sebelumnya yang paradoks. Setelah kita telusuri dari biografi hidupnya  tidak sedikit yang ternyata mengalami latar belakang kehidupan yang lain dari kenyataannya sekarang. Mereka banyak yang berlatar belakang orang-orang susah, seperti lahir dalam keadaan yatim, dari keluarga orang miskin, ada yang sering bangkrut, ada yang dikejar-kejar hutang, dan gambaran kehidupan susah lainnya. Bahkan, di antara mereka tidak hanya, dalam katerbatasan materi tetapi juga fisik, seperti cacat fisik.

Lantas apa yang dimaksud aktualisasi diri?

Aktualisasi diri menjadi salah satu pembahasan psikologi. Menurut Abraham Maslow,  aktualisasi diri adalah suatu kemampuan seseorang untuk mengatur diri dan otonominya sendiri serta bebas dari tekanan luar. Secara sederhana, aktualisasi diri adalah sebuah hasil dari kematangan individu, yang menyadari kemampuan dirinya dan mampu melaksanakannya. Ia menjelaskan teori aktualisasi diri berdasarkan asumsi dasar bahwa manusia pada hakikatnya memiliki nilai intrinsik berupa kelebihan dan keunikan. Berangkat dari itu, setiap individu punya peluang untuk memaksimalkan potensinya. Dasar dari hal tersebut, membuat Maslow menyimpulkan, setiap individu memiliki pilihan untuk mengembangkan dirinya dan potensi yang dimilikinya. Selanjutnya ia memberikan penegasan, itulah titik awal untuk menjadi dirimu sepenuhnya. Kalau masih terkungkung oleh masa lalu atau masih belum bisa bangun dari masa depan, anda belum bisa menjadi dirimu sepenuhnya. Mengacu kepada teori tersebut, secara sederhana juga dapat dikatakan, bahwa aktualisasi diri adalah upaya yang dilakukan seseorang untuk menunjukkan tampilan maksimal (baik perilaku, pemikiran, atau karya) sesuai ruang dan waktu saat ini.

Tujuan Aktualisasi Diri

Setiap manusia, dalam teori Maslow, memiliki potensi dan kelebihannya tersendiri. Selain dari potensi dasar secara genetik, ada juga potensi yang dapat dikembangakan seiring waktu. Singkatnya, aktualisasi diri bertujuan untuk menerima dan menyadari keadaan individu untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diri. Untuk dapat melakukan itu, penerimaan diri harus menjadi kunci awal dan dasar. Tak ayal, penolakan, frustasi, dan penyimpangan akan timbul dalam tahap ini. Maka, apabila individu tidak dapat menyadari dan menerima kelemahan dirinya, aktualisasi diri tidak akan dapat tercapai.

Cara Menerapkan Aktualisasi Diri

Maslow menjelaskan, untuk menerapkan aktualisasi diri setidaknya ada beberapa cara yang harus dilewati oleh tiap individu :

  • Mampu melihat realitas secara lebih efisien

Aktualisasi diri akan tercapai apabila seseorang mampu mengenali ketidakbenaran atau kepalsuan yang berasal dari diri sendiri atau orang lain. Sikap kritis untuk mengenali hal tersebut akan menumbuhkan sikap pengamatan yang tajam terhadap realitas hidup.

  • Menerima diri sendiri dan orang lain.

Aktualisasi diri juga hanya akan dapat tercapai, apabila seseorang mampu menyadari dirinya sendiri dan sekaligus menerimanya. Karena, pada dasarnya setiap orang memiliki potensie dan kelebihannya, namun tak luput juga kekurangannya. Dengan menerima kelemahan diri sendiri dan orang lain, sikap toleransi juga akan bertumbuh. Toleransi untuk menerima saran, pendapat, dan kritik dapat berbuah pada perkembangan diri individu.

  • Bersifat tidak egosentris

Seseorang yang mencapai aktualisasi diri, adalah mereka yang tidak menempatkan egonya di atas segalanya. Individu yang mampu menempatkan kepentingan dan kebaikan bersama adalah mereka yang memiliki gagasan yang terbuka dan fokus pada kebaikan. Individu yang yang dapat mencapai aktualisasi diri berkembang dari pembelajaran yang bersifat terbuka.

  • Bersifat mandiri

Ciri dari individu yang memiliki aktualisasi diri, adalah mereka yang tidak menggantungkan diri sepenuhnya pada orang lain atau lingkungan. Individu yang mampu melakukan sesuatu berdasarkan pada dirinya sendiri adalah mereka yang bersifat otonom dan mampu bertahan pada situasi dan kondisi apa pun. Hal ini, mampu membantu pertumbuhan dan perkembangan potensi seseorang.

  • Mampu bersosialisasi dengan baik.

Untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki, kita membutuhkan orang lain sebagai pemandu atau objek pembelajaran. Oleh karena itu, individu yang mampu menerapkan hubungan yang baik dengan orang lain, adalah ciri dari seseorang yang mampu melakukan aktualisasi diri. Itulan paparan mengenai aktualisasi diri mulai dari pemgertian, tujuan, serta cara mewujudkannya menurut Maslow. Cara-cara tersebut dapat digunakan untuk memaksimalkan aktualisasi diri serta potensi yang ada di dalam diri setiap individu mansia.

Puncak Aktualisasi Diri

Dr. Fachrudin Faiz memberikan penjelasan, puncak aktulisasi diri ini adalah aktualissi diri ialah :

  • Peakexperience (pengalaman puncak), ranahnya adalah ranah spiritual. Pengalaman puncak ini dalam istilah agama sering disebut “kasyaf” (ekstase). Yaitu pengalaman atau rasa yang luar biasa. Keterpesonaan yang luar biasa yang bersifat relijius mistik.Saking luar biasanya,  seoang yang sudah sampai tahap ini merasa dirinya sudah tidak penting lagi, tergantikan rasa nikmat, rasa keterpesonaan yang luar biasa. Atau, dengan kalimat lain bisa dikatakan  tidak dapat diredaksikan dengan kata-kata.
  • Pengalaman puncak ini sifatnya tidak terkatakan (innefable), noeitic (Bahasa Yunani) yang berarti intuitif (tidak pakai akal tidak pakai panca indera)  dan tidak terus menerus (transient ).
  • Dalam jangka waktu tertentu mungkin 10 menit atau setengah jam akan kembali ke asal. Oleh karena itu jangan dibayangkan ektase itu terus menerus. Ada saatnya akan hilang seiring dengan kesadarannya. Jadi dalam bahasa tasawuf sebagai “kasyaf” atau “musyahadah” dan menurut istilah Maslow sebagai “peakexperience”.

Dengan demikian menurutnya, pengalaman puncak yang dalam ilmu taswuf disebut kasyaf atau musyahadah,[1] tetapi dalam tradisi psikologi Barat juga dikenal pengalaman puncak yang disebut peakexperience.

Tinjauan  Islam

Untuk mengetahui bagaimana pandangan Islam mengenai pentingnya aktualisasi diri ini kita perlu mengingat tujuan manusia diciptakan. Sebenarnya banyak ayat sangat relevan   dijadikan bahan dasar renungan mengenai hal ini. Manusia diciptakan dengan sebaik-baik bentuk. Manusia juga diciptakan dengan segenap kemuliaannya. Tujuan Allah menciptakan manusia memang hanya Allah Yang tahu. Akan tetapi secara tersurat dapat kita dari 2 ayat penting mengenai hal ini yaitu:

  • Surat Al Baqarah, 2:30.

Artinya: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat Sesungguhnya aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.

  • Surat Adz Dzariyat, 51:56.

Artinya: Dan tidak akan aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”

Dua ayat tersebut seolah saling berdiri sendiri satu sama lain. Tujuan diciptakan manusia adalah sebagai khalifah di muka bumi. Atau dengan bahasa lain, Allah menciptakan manusia untuk mengelola bumi seisinya. Sedangkan pada ayat kedua, tujuan Allah menciptakan untuk menyembah kepadanya.

Akan tetapi, sebenarnya kedua ayat tersebut saling melengkapi satu sama lain. Yaitu, diciptakan sebagai khalifah di bumi  agar dapat lebih maksimal untuk meningkatkan kualitas pengabdian (ibadah) kepada Allah SWT. Hal ini juga di dukung oleh hadits  “Addunya mazra’atul akhirah.” (Dunia adalah ladang akhirat).  Mengapa kepentingan akhirat tetap harus menjadi prioritas sebab Allah telah membuat maklumat, bahwa wal akhiratu khairul laka minal ula.

Untuk kepentingan dua fungsi tersebut ada satu ayat yang juga penting kita renungkan yaitu sebagaimana tertuang dalam surat al Qashash, 28:77:“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah diberikan Allah kepadamu, tetapi jangan lupa bagianmu di dunia.”

Hubungannya Dengan Aktualisasi Diri

Allah menciptakan manusia, di samping diciptakan sengan sebaik-baik bentuk ternyata juga diberikan talenta. Talenta tersebut, agar fungsi keterciptaannya bisa maksimal. Agar talenta tersebut bisa berkembang harus  di asah. Selanjutnya talenta yang sudah terasah tersebut setelah maksimal dapat digunakan sebagai bekal hidupnya, tidak hanya untuk mencari pahala akhirat tetapi juga untuk kepentingan hidupnya selama di dunia.

Kegiatan mengasah talenta agar bisa maksimal tersebut tidak lain merupakan kegiatan aktualisasi diri.  Dengan demikian, tanpa aktualisasi tentu juga mustahil kita dapat mencapai kebaikan di dunia, lebih-lebih nanti di akhirat.

Aktualisasi Diri dan ASN

Kita sudah ditakdirkan termasuk dari sedikit penduduk di negeri ini yang beruntung dapat menjadi ASN, dalam hal ini tentunya ASN Peradilan Agama. Sebagai ASN tentu tidak ingin statis dalam satu posisi kedudukan tertentu. Sebaliknya ingin karir meningkat. Tentu hal demikian tidak mungkin dicapai tanpa kerja keras. Tanpa aktualisasi diri mustahil sebagai ASN akan mencapai karir maksimal. Setiap ASN harus memahami sekaligus mengimplementasikan Core Values dan Employer Branding ASN, sebagaimana Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Apara tur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor: 20 Tahun 2021 tentang Implementasi Core Values dan Employer Branding Aparatur Sipil Negara, yaitu:  Ber-AKHLAK ( Berorientasi pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif ).

Sebagai aparat peradilan, khususnya hakim, aktualisasi diri ini secara tersirat tampaknya telah pula disinggung oleh ketentuan salah satu pasal Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, yaitu Pasal 5 ayat (1) yang menegaskan: “Hakim dan hakim konstitusi wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.  Dengan maksud yang kurang lebih sama, Prof. Busthanul Arifin dalam salah satu bukunya juga pernah memesankan kepada setiap hakim Peradilan Agama, bahwa hakim harus selalu alim dalam ilmu hukum (learned in law) dan terampil menerapkan hukum (skilled in law). Dengan kalimat lain, terus menggali nilai keadilan yang berkembang, alim dalam ilmu hukum (learned in law), dan terampil dalam ilmu hukum (skilled in law) adalah salah satu bentuk keharusan bagi hakim untuk terus beraktualisasi diri. Yang demikian tentu juga berlaku bagi aparat peradilan lainnya. Oleh karena dalam konteks ini, mengindahkan himbauan Ketua MA RI menjadi penting, yaitu membiasakan 3 M:  Mulai dari sekarang, Mulai dari yang kecil, dan Mulai dari sendiri. Wallahu a’lam.