IHWAL  “CUTI KHUSUS” PASUKAN DI ZAMAN UMAR BIN AL-KHATTAB

Di Indonesia Ulama yang satu ini tentu sudah sangat populer. Salah satu kitabnya  Tafsir al-Jalalain menjadi salah satu mata ‘kajian wajib’ di setiap pesantren. Beliau yang mulia itu adalah Al-Imam Al-‘Allamah Al-Hafizh Jalaluddin As-Suyuthi. Di dunia Islam, salah seorang  tokoh ulama terkemuka ini, namanya tetap harum hingga saat ini. Ulama ini, pada zamannya, dikenal sebagai seorang yang alim dalam bidang hadis dan cabang-cabangnya, baik yang berkaitan dengan ilmu rijal, sanad, matan, maupun kemampuan dalam mengambil istimbat hukum dari hadis.

Penulis Tafsir al-Jalalain, yang ditulis bersama  Al Imam Jalaludin Al Mahalli, ini lahir setelah waktu magrib, malam Ahad, pada permulaan tahun 849 H di daerah Al-Asyuth, atau juga dikenal dengan “As-Suyuthi”. Ulama yang hafal Qur’an sejak belum genap 8 tahun ini, secara lengkap, bernama Abdur Rahman bin Kamaluddidn Abu Bakar bin Muhammad bin Sabiquddin Abu Bakar bin Fakhruddin Utsman bin Nashiruddin Muhammad bin Saifuddin Khidr bin Najmuddin Abu Ash-Shalah Ayyub bin Nashiruddin Muhammad bin Syekh Hammamuddin Al-Hammam bin Al-Kamal bin Nashiruddin Al-Mishri Al-Khudhairi Al-Asyuthi Ath-Thalani Asy-Syafi’i. Beliau menutup usianya pada malam Jumat, 19 Jumadil Ula 911 H, di kediamannya di Raudhah, dekat dengan sungai Nil, dalam usia 61 tahun dan 10 bulan. (https://islam.nu.or.id/)

Kitab Tarikhul Khulafa

Salah satu kitab karya Al Imam As Suyuthi yang jarang dikaji para santri adalah Kitab Tarikhul Khulafa. Kitab ini (menurut versi satu penerbit) terdiri dari  560 halaman. Isi kitab pada pokoknya menguraikan sejarah penguasa Islam mulai al-Khulafa’irrasyidin, Bani Umayyah, dan Bani Abbasiyyah.

Ketika memberikn resensi atas kitab ini, Penebit Pustaka Azam, menulis tentang  kitab ini sebagai berikut:

“….. di dalamnya memuat sejarah para khalifah terdahulu, serta keadaan para raja, menteri, dan sultan. Kitab ini sangat berharga, luas manfaatnya, ringkas kalimatnya, indah isyaratnya. Dalam kitab ini pengarang rahimahullah menyusun biografi para khalifah dan para pejabat sejak masa kenabian hingga masanya.

Penyusun menempuh metode yang sangat baik. Dalam kitab ini ia menyajikan pilihan dari kitab-kitab sejarah, khususnya kitab Tarikh al-Islam karya Imam adz-Dzahabi rahimahullah yang menjadi rujukan utamanya dalam menulis karya ini. Kemudian ia menambahkan dari berbagai sumber informasi -informasi yang dilupakan  dalam kitab-kitab tersebut.

Setelah habis masa adz-Dzahabi rahimahullah, dan setelah Imam Jalaluddin mengutip hal-hal penting darinya, ia beralih kepada kitab-kitab lain yang menjadi pegangan dan merupakan karya para ulama kenamaan di bidang hadits. Mereka inilah para ulama yang mumpuni dalam mengkritik kabar dan sejarah seperti Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan Ibnu Fadhlullah, rahimahumullah jami’an.

Sampailah Imam as-Suyuthi pada sejarah di masa hidupnya. Di sini ia tampil  elok dalam melakukan analisa terhadap peristiwa-peristiwa di zamannya. Ia menyebutkan peristiwa-peristiwa penting yang bisa mencerahkan akal pembaca dan memperlihatkan aspek-aspek yang menarik perhatian pada masa itu. Selanjutnya, Imam as-Suyuthi menulis dalam setiap biografi berbagai peristiwa yang terjadi pada masanya. Kemudian ia menutup biografi dengan  menyebutkan para tokoh yang wafat pada periode waktu tersebut untuk menyempurnakan manfaat, dan untuk mengikuti gurunya yaitu Imam adz-Dzahabi.”(https://yufidstore.com/).

Antara Tugas Negara dan Psikologi Keluarga

Salah satu hal menarik di tengah hiruk pikuk perilaku politik para tokoh ialah riwayat tentang kehidupan para wanita. Wanita dimaksud tidak lain tentang kisah para istri dibalik ‘patriotisme’ para suami yang berperang atas nama panggilan jihad. Para suami sering harus memenuhi perintah para khalifah pergi ke medan perang dengan durasi waktu yang tidak jelas lamanya. Salah seorang khalifah yang secara diam-diam concern mengenai hal ini ialah khalifah Umar  bin Khattab.

Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Juraij, dia berkata: Seseorang yang saya percayai mengabarkan kepada saya bahwa tatkala Umar sedang berkeliling kota Madinah dia mendengar seorang perempuan menyanyikan syair berikut:

Malam ini begitu panjang dan dinding-dindingnya gelap gulita,

Membuat hati terenyuh tak ada teman untuk bercumbu,

Andaikata bukan rasa takutku hepada Allah semata

Niscaya akan bergoyang dinding-dinding ranjangku ini “

Umar kemudian mendatangi wanita itu dan berkata,” Apa yang terjadi padamu?”

Wanita itu menjawab, “Kau telah menjadikan suamiku seorang duda selama beberapa bulan. Aku kini sangat merindukannya.”

Umar berkata, “Lalu kau inginkan sebuah kejahatan?”

Wanita tadi menjawab, “Aku berlindung kepada Allah.”

Umar berkata, “Kalau demikian, kuasailah dirimu, saya akan utus seseorang untuk menemui suamimu.”

Kemudian Umar datang menemui anaknya Hafshah dan dia berkata: “Berapa lama seorang wanita mampu menahan rindu kepada suaminya?”

Hafshah menundukkan kepalanya, karena dia merasa malu ditanya soal ini.

Umar kemudian berkata, “Sesungguhnya Allah tidak malu mengatakan yang benar. “

Hafshah kemudian memberi isyarat tiga bulan, jika tidak, maka empat bulan. Kemudian Umar memerintahkan agar bala tentara yang dikirim ke medan perang tidak boleh tinggal lebih dari tiga hingga empat bulan di medan perang.

Kisah tentang romantika kehidupan rumah tangga tersebut tertulis dalam Tarikhul Khulafa dalam epidose pemerintahan Umar bin Khattab. Sebuah kisah yang tentunya untuk masa modern ini perlu menjadi bahan kajian bagi para pembuat kebijakan di bidang kepegawaian, khususnya  yang berkaitan dan hak cuti pegawai.

Sebagaimana diketahui, kini  negara telah mengatur pemberian cuti yang secara operasional telah dituangkan dalam Peraturan Badan Kepegawaian Negara Nomor 24 Tahun 2017 Tentang Tata Cara Pemberian Cuti Pegawai Negeri Sipil yang telah diubah dengan Peraturan BKN Nomor 7 Tahun 2021. Aturan cuti yang ada di dalamnya sama sekali tidak didasarkan atas situasi dan kondisi riil pegawai di lapangan sehingga sangat dirasakan tidak adil. Mengapa? Pemberian cuti tersebut tidak membedakan pegawai yang bertugas di lingkungan (dekat) keluarga dan pegawai yang bertugas jauh dari keluarga. Indonesia dengan luas wilayah teritorial yang ada, sering mengharuskan sejumlah pegawai atau pejabat yang  bertugas jauh dari keluarga. Jarak tempuh mereka untuk sekedar bertemu keluarga, karena kemajuan teknologi transportasi, memang relatif lebih singkat. Akan tetapi, untuk menempuhnya, tentu harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit karena harus memakai transportasi udara. Padahal, biaya untuk ‘bercuti ria’ tersebut harus di dapat dari pencairan tabungan pribadi alias biaya sendiri. Dari sini ada istilah, untuk sekedar bertemu keluarga yang hanya beberapa saat harus “mantab” (makan tabungan). Pada saat yang sama hak cuti yang diberikan  pegawai yang bertugas di lingkungan keluarga sama saja. Jelas terjadi perbedaan ekstrim tentang kisah 2 kelompok pegawai. Pegawai yang tugas dekat keluarga bisa mengumpulkan sisa gaji untuk ditabung, sedangkan gaji pegawai atau pejabat yang tugas jauh dari keluarga nyaris habis hanya untuk tiket pesawat.

Pegawai yang demikian kini tidak hanya pasukan (polisi dan tentara) tetapi juga profesi lainnya, seperti hakim, jaksa, dan pegawai pusat lainnya. Terhadap pegawai atau yang pejabat model demikian jika ditanya tentu akan berharap, agar dibedakan model cuti pegawai yang ditugaskan dekat keluarga dengan yang ditugaskan di medan yang jauh keluarga. Aturan mainstream regulasi cuti, mestinya hanya diperuntukkan  pegawai yang kebetulan bertugas di dekat keluarga. Sedangkan, bagi pegawai yang ditugaskan jauh keluarga, diberi regulasi cuti khusus, seperti secara berkala, setiap 2 atau 3 bulan sekali diberi hak cuti dengan lama tertentu dan ditanggung negara. Kalau tidak,  sampai kapan pagawai yang demikian bisa setara dengan teman-teman pegawai yang tidak perlu mengeluarkan untuk membeli tiket pesawat? Sistem cuti khusus ini diperlukan juga dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Dalam kasus zaman khalifah Umar di atas diperolah gambaran, bahwa potensi perselingkuhan, bisa muncul akibat frekuensi pertemuan suami istri yang tidak jelas. Kalau ini terjadi tentu paradoks dengan harapan ideal seorang aparatur sipil negara yang harus menjadi suri tauladan masyarakat. Upaya Khalifah Umar bin Khattab menyerap aspirasi para istri dalam kisah di atas, sepatutnya menginspirasi para pembuat kebijakan kepegawaian. Ternyata, psikologi keluarga (istri dan anak), sebagaimana diisyaratkan oleh muatan kisah dalam Kitab Tarikhul Khulafa ini,  tampaknya  menjadi bagian masukan yang perlu dijadikan pertimbangan. Suatu masukan yang bersumber dari sebuah literatur penting yang ditulis oleh sosok yang penting pula.