HAK DAN KEWAJIBAN DEBITUR DALAM PERIKATAN ATAU PERJANJIAN PEMBIAYAAN DI BANK SYARIAH

Oleh : Nur Muhammad Huri, S.H.I. (Wakil Ketua Pengadilan Agama Serui Kelas II)

Hak dan kewajiban debitur dan kreditur sebaiknya dicantumkan dalam bagian isi perjanjian. Debitur dan kreditur dapat memasukkan apa-apa yang diinginkan dan disepakati kedua belah pihak. Dibagian isi perjanjian dicantumkan klausul-klausul secara rinci terkait para pihak yang melakukan kontrak, hak dan kewajiban para pihak, deskripsi lengkap tentang layanan, teknis pengawasan, asuransi, dan penyelesaian sengketanya. Dalam ungkapan orang arab disebutkan:

مَنْ عَا مَلَ النَّاسَ فَلَمْ يَظْلِمْهُمْ وَحَدَّثَهُمْ فَلَمْ يكَذِّبْهُمْ وَوَعْدُهُمْ فَلَمْ يَخْلِفْهُمْ , فَهُوَ مِمَّنْ كَمُلَتْ مُرُوْ ءَتُهُ وَظَهَرَتْ عَدَالَتُهُ , وَوَجَبَتْ اَخْوَتُهُ

Artinya : Siapa yang bergaul dengan orang lain, lalu ia tidak menzalimi mereka, siapa yang berbicara dengan orang lain, lalu ia tidak mendustai mereka, dan siapa yang berjanji kepada mereka, lalu ia tidak mengingkarinya, maka dia termasuk orang yang sempurna harga dirinya. Dia mengutamakan keadilan dan berhak untuk dijadikan sebagai kawan setia.

Allah memerintahkan untuk memenuhi janji yang dibuat kepada Allah dan manusia dalam pergaulan dengan sesamanya. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Maidah/5:1: Terjemahnya: Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janji.….

Hukum mengingkari janji juga dianggap sebagai dosa besar oleh Allah. Allah berfirman dalam Q.S. Ash-Shaf/61:2-3 : Wahai orang-orang yang beriman!, Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (2). (itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan (3).

Menunaikan janji harus lebih didahulukan daripada membayar hutang. Allah maha melihat perikatan atau perjanjian serta apa yang dikerjakan. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Anfaal/8:72: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada Muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun bagimu melindungi mereka, sampai mereka berhijrah. (Tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, Maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada terikat perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan (72).

Tidak ada balasan bagi orang yang memelihara amanat dan janjinya, kecuali surga. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Mu’minuun/23:8-11: Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya (8). Serta orang-orang yang memelihara salatnya (9). Mereka itulah orang yang akan mewarisi (10). (yakni) yang akan mewarisi (surga) Firdaus. Mereka kekal di dalamnya (11).

Allah melarang manusia untuk mengingkari janji dan sumpah yang dibuat sebagai alat untuk menipu. Allah berfirman dalam Q.S. An-Nahl/16:91-92: Dan tepatilah janji dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu melanggar sumpah setelah diikrarkan, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat (91). Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali. Kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan pasti pada hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu (92).

Setiap orang yang melanggar janji akan dimintai pertanggungjawabannya disisi Allah. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Isra’/17:34 : Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa, dan penuhilah janji, karena janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya (34).

Hal-hal yang wajib dipenuhi dalam sebuah akad adalah:

  1. Tidak bertentangan dengan hukum syariah.
  2. Dibuat berdasarkan asas kebebasan untuk membuat kesepakatan bersama tanpa ada paksaan.
  3. Harus jelas dan tidak mengandung interpretasi yang dapat menimbulkan salah paham dalam pelaksanaanya.

Hal-hal yang dapat mengakibatkan kontrak berakhir ada 4 hal, yaitu:

  1. Berakhirnya masa kontrak

Dalam kontrak, biasanya telah ditentukan kapan dimulainya dan kapan akan berakhir. Dengan berjalannya waktu, perjanjian akan berakhir secara otomatis, kecuali para pihak menentukan lain di kemudian hari. Allah telah memerintahkan manusia untuk memenuhi janjinya sampai batas waktu yang ditentukan. Allah berfirman dalam Q.S. At-Taubah/9:4: kecuali orang-orang musyrikin yang telah mengadakan perjanjian dengan kamu dan mereka sedikit pun tidak mengurangi (isi perjanjian) dan tidak (pula) mereka membantu seorang pun yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa (4).

2. Dibatalkan oleh pihak yang melakukan kontrak atau terjadi pembatalan atau pemutusan kontrak (Fasakh).

Hal ini terjadi jika salah satu pihak melanggar kontrak atau diketahui terdapat kekhilafan atau penipuan dalam kontrak menyangkut adanya objek yang salah (error in objecto) atau orangnya yang salah (error in persona). Jika salah satu pihaknya menyimpang dari perjanjiannya, maka pihak lainnya dapat mengajukan pembatalan perjanjian. Allah berfirman dalam Q.S. At-Taubah/9:7: Bagaimana mungkin ada perjanjian (aman) di sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin, kecuali dengan orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidilharaam (Hudaibiyah), maka selama mereka berlaku jujur terhadapmu, hendaklah kamu berlaku jujur (pula) terhadap mereka. Sungguh Allah menyukai orang-orang yang bertakwa (7).

Pembatalan atau pemutusan akad juga dapat terjadi disebabkan hal-hal sebagai berikut:

  1. Adanya hal-hal yang tidak dibenarkan syara’, seperti terdapat kerusakan dalam akad (fasad al-aqd). Misalnya, jual beli barang yang tidak memenuhi kejelasan (jahalah) dan tertentu waktunya (muaqqat).
  2. Adanya khiyar, baik khiyar rukyah, khiyar ‘aib, khiyar syarat atau khiyar majelis.
  3. Adanya penyesalan dari salah satu pihak (iqalah). Salah satu pihak yang berakad dengan persetujuan pihak lain membatalkan karena merasa menyesal atas akad yang baru saja dilakukan. Hal ini didasarkan pada Hadist Nabi saw riwayat Baihaqi dari Abu Hurairah yang mengajarkan bahwa barang siapa mengabulkan permintaan pembatalan orang yang menyesal atas akad jual beli yang dilakukan, Allah akan menghilangkan kesukarannya pada hari kiamat kelak (man aqala naadiman bai’atahu aqalallahu ‘atsaratuhu yaumal qiyamah).

Allah memerintahkan hambanya untuk memerangi orang yang tidak menepati janji dan yang melanggar sumpah setelah dibuat perjanjian. Allah berfirman dalam Q.S. At-Taubah/9:12 : Dan jika mereka melanggar sumpah setelah ada perjanjian, dan mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin kafir itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, mudah-mudahan mereka berhenti (12).

3. Salah satu pihak yang melakukan kontrak meninggal.

Perjanjian yang dibuat dalam hal memberikan sesuatu berbentuk uang atau barang, maka perjanjian tersebut tetap berlaku bagi ahli warisnya. Ketika seseorang membuat perjanjian pinjam uang kemudian meninggal, maka kewajiban untuk mengembalikan utang tersebut menjadi kewajiban ahli warisnya.

Kesepakatan tentang pemberian uang atau barang yang dilakukan kedua belah pihak yang membuat kontrak, maka perjanjian itu sah dan juga berlaku bagi para ahli warisnya. Jika ada orang yang berjanji meminjam uang dan uangnya sudah diterima kemudian ia meninggal dunia, maka kewajiban untuk membayar hutangnya orang yang telah meninggal dunia tersebut menjadi kewajiban ahli warisnya.

4. Terdapat bukti makar (penipuan).

Kontrak yang didalamnya terdapat bukti ada penipuan, maka kontrak tersebut dapat diajukan pembatalan oleh pihak yang menjadi korban penipuan. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Anfal/8:58: Dan jika engkau (Muhammad) khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berkhianat. (58).

Sayyid Sabiq dalam bukunya Fiqhus Sunnah juga telah membahas khusus tentang 4 hal, yaitu: 1. Bersegera membayar utang, 2. Zalim menunda pembayaran utang, 3. Sunnah menangguhkan tagihan terhadap orang yang kesusahan dan 4. Membebaskan dan mempercepat tagihan.

Dari kitab tersebut juga dapat dikutip point-point penting terkait utang, diantaranya adalah:

  1. Orang yang masih mempunyai utang dan meninggal dunia, maka dia terbelenggu dengan utangnya. Rasulullah memerintahkan untuk membayarkan utang tersebut kepada seseorang meskipun atas pengakuan piutangnya tersebut pemberi utang tidak memiliki bukti.
  2. Orang yang berjihad dengan jiwa dan semua hartanya, berperang dengan sabar dan pantang mundur kemudian orang tersebut mati dalam keadaan masih mempunyai utang dan belum membayarnya, maka tidak masuk surga sebelum dibayar utangnya.
  3. Rasulullah tidak mau menshalatkan orang meninggal dunia dan masih mempunyai utang. Setelah ada yang berjanji atau bersedia menanggung utangnya, kemudian Rasulullah mengatakan “sholatkanlah dia”.
  4. Menunda pembayaran bagi orang yang mampu adalah suatu kezaliman. Jika salah seorang diantara kalian dihalalkan oleh orang kaya, hendaklah diterima ihalah (pengalihan atau pengambil-alihan utang) tersebut.
  5. Jika (orang yang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Menyedekahkan, itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui (Q.S. Al-Baqarah/2:280).
  6. Rasulullah bersabda yang artinya: Barangsiapa memberi kemudahan (kepada orang yang kesulitan membayar utang), maka Allah menyelamatkannya dari duka dan kesulitan di hari kiamat.
  7. Rasulullah bersabda yang artinya: Barangsiapa memberi penangguhan tagihan kepada orang yang dalam kesulitan atau membebaskannya, maka Allah memayungi di bawah naungan-Nya.
  8. Pada saat Rasulullah memerintahkan untuk mengusir bani Nadzir, lalu sekelompok orang datang dan merekapun berseru kepada Nabi: Wahai Nabiyallah, sesungguhnya engkau memerintahkan kami keluar dari Madinah, sedangkan kami mengutangkan kepada manusia dan belum dibayar, lalu Rasululah bersabda : Bebaskanlah dan mintalah dipercepat.